Wakil Gubernur Bali Giri Prasta: Ngayah dan Pelestarian Tradisi Leluhur di Bumi Khayangan Bangli

Table of Contents

Wakil Gubernur Bali Giri Prasta: Ngayah dan Pelestarian Tradisi Leluhur di Bumi Khayangan Bangli



BANGLI – Pulau Dewata Bali tidak hanya dikenal sebagai surga wisata dunia, tetapi juga sebagai pulau yang kaya akan warisan budaya dan spiritualitas yang mendalam. Di setiap jengkal tanah Bali, nafas kehidupan selalu diiringi oleh detak ritme ritual sakral. Salah satu perwujudan dari kelestarian ini terlihat ketika Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, hadir meramaikan dan turut serta dalam rangkaian upacara adat yang agung di Desa Adat Guliang Kangin, Bangli. Pada hari Minggu, 29 Maret lalu, sosok nomor dua di Provinsi ini tidak hadir semata-mata sebagai pejabat pembawa daftar, melainkan hadir sebagai semeton (saudara) yang siap ngayah (mengabdi) demi kebersamaan dan keseimbangan alam semesta.

Acara tersebut merupakan perayaan tiga rangkaian upacara sakral sekaligus: Upacara Mecaru, Mendem Pedagingan, dan Melaspas di Sanggah Gede Kubon Tubuh Kuthawaringin. Kehadiran Wagub Giri Prasta beserta Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta, memberikan warna tersendiri, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk selalu berada di garis depan dalam menjaga Ajeg-nya Bali, khususnya dalam ranah keagamaan dan adat istiadat.

Harmoni Antar Alam: Makna Mendalam Upacara Mecaru, Mendem Pedagingan, dan Melaspas


Untuk memahami besarnya makna acara ini, kita harus merunut kembali ke filosofi Hindu Dharma yang menjadi landasannya. Upacara yang digelar di Desa Adat Guliang Kangin ini bukan sekadar seremonial belaka, melainkan sebuah proses metafisika yang bertujuan untuk menyeimbangkan Bhuana Agung (alam semesta) dan Bhuana Alit (diri manusia).


Filosofi Melaspas: Menghidupkan Arsitektur Sakral


Kata Melaspas berasal dari akar kata las yang berarti bersih, dan pas yang berarti sinar. Secara harfiah, Melaspas berarti membersihkan dan menyinari. Dalam konteks pembangunan Sanggah Gede Kubon Tubuh Kuthawaringin, upacara ini memiliki makna sangat krusial. Sebuah bangunan suci, meskipun dibangun dengan material fisik terbaik, dianggap masih "mati" sebelum dilakukan upacara Melaspas.

Ritual ini bertujuan untuk membersihkan bangunan dari pengaruh-pengaruh negatif atau bhuta kala yang mungkin melekat pada material bangunan selama proses konstruksi. Lebih dari itu, Melaspas adalah momen di mana bangunan tersebut "dihidupkan" atau diresmikan secara spiritual untuk dijadikan tempat bersemayamnya Ida Bhatara. Dengan demikian, Sanggah Gede bukan lagi sekadar tumpukan batu dan kayu, melainkan menjadi pusat tatanan spiritual (palinggih) yang memiliki vibrasi energi suci.

Mecaru: Menyeimbangkan Panca Maha Bhuta


Bertepatan dengan Melaspas, dilaksanakan pula upacara Mecaru. Mecaru adalah ritual pembersihan atau penyucian alam semesta (Bhuana Agung). Dalam ajaran Hindu, alam semesta ini terdiri dari lima elemen dasar yang disebut Panca Maha Bhuta: Pertiwi (tanah), Apah (air), Teja (api), Bayu (udara), dan Akasa (ether/ruang hampa).

Ketika keseimbangan kelima elemen ini terganggu—baik oleh aktivitas manusia, bencana alam, maupun ketidakharmonisan sosial—maka akan timbul berbagai penyakit, malapetaka, atau kerawanan. Upacara Mecaru hadir sebagai "obat" spiritual untuk menetralkan kembali energi alam. Melalui penyucian ini, umat memohon agar kehidupan di lingkungan sekitar Sanggah Gede kembali harmonis, aman, dan tenteram.

Mendem Pedagingan: Fondasi Spiritual yang Kokoh



Sedangkan Mendem Pedagingan adalah ritual penguburan atau penanaman sarana upacara tertentu (pedagingan) ke dalam tanah di area bangunan suci. Ritual ini melambangkan penguatan fondasi spiritual bangunan tersebut. "Mendem" berarti mengubur atau menanam, menandakan bahwa sesuatu yang besar dan kuat harus memiliki akar yang mendalam.

Pedagingan sendi berbagai sarana upakara yang melambangkan kesuburan dan kekuatan. Dengan "mendem" pedagingan ini, umat berharap agar Sanggah Gede Kubon Tubuh Kuthawaringin tidak hanya kokoh secara fisik, tetapi juga memiliki daya tangkal spiritual yang kuat, memberikan perlindungan (pengayoman) bagi seluruh krama di Desa Adat Guliang Kangin.

Teladan Kepemimpinan Melalui Aksi Ngayah


Dalam dunia kepemimpinan, seringkali tercipta jarak antara pemimpin dan yang dipimpin. Namun, citra tersebut ditembus oleh Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta. Dalam acara di Guliang Kangin ini, Wagub Giri Prasta menunjukkan paradigma kepemimpinan yang berbeda: kepemimpinan yang tidak hanya ngawiguna (memerintah), tetapi juga ngayah (mengabdi).

Terlihat jelas dalam prosesi tersebut, beliau tidak duduk manis di kursi VIP yang terpisah. Ia berdiri berdampingan dengan para sulinggih, prajuru, dan krama desa lainnya. Ia mengikuti persembahyangan dengan khusyuk, menyatukan jiwanya dalam doa kolektif. Ia juga terlihat ngaturang ayah-ayahan mendem pedagingan bersama Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta.

Aksi ngayah yang dilakukan oleh seorang pejabat tinggi ini mengandung pesan filosofis yang sangat dalam. Dalam budaya Bali, siapa pun ia, apa pun jabatannya, ketika berada di areal suci dan menghadapi Ida Sang Hyang Widhi Wasa, status sosial mencair. Yang tersisa hanyalah jiwa atman yang sedang berusaha menyatu dengan sang pencipta. Giri Prasta memberikan teladan bahwa memuliakan tradisi leluhur tidak mengenal hierarki jabatan, melainkan mengenal derajat ketulusan hati.

Tantangan Ekonomi dalam Pelaksanaan Yadnya dan Peran Pemerintah



Dalam sambutannya, Wagub Giri Prasta mengangkat isu yang sangat nyata dan kerap menjadi keluhan bagi para pelaksana upacara di Bali: besarnya beban biaya. Ia menyoroti dengan tajam pengorbanan yang telah dikeluarkan oleh krama Desa Adat Guliang Kangin. Pengorbanan itu bukan hanya soal waktu dan tenaga, tetapi terutama sektor finansial.

Membangun sebuah Sanggah Gede hingga selesai, menyediakan sarana prasarana, dan membiayai seluruh kelengkapan upacara Panca Yadnya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Harga bahan upakara yang terus merangkak naik, ditambah dengan kebutuhan hidup sehari-hari, seringkali membuat krama merasa terbebani. Di sinilah Giri Prasta menekankan pentingnya peran pemerintah.

Dukungan Pemerintah untuk Kebutuhan Spiritual


Pemerintah Provinsi Bali di bawah kepemimpinan Gubernur Wayan Koster dan didampingi Giri Prasta, memiliki visi yang jelas terkait hal ini. Mereka menyadari bahwa agama dan budaya adalah "jiwa" dari Bali. Jika jiwa ini lemah karena umatnya terkungkung kesulitan ekonomi dalam beribadah, maka keajegan Bali akan terancam.

Oleh karena itu, Wagub menegaskan bahwa dukungan pemerintah baik dalam bentuk bantuan pembangunan fisik pura, infrastruktur keagamaan, hingga dukungan biaya upakara bukanlah sekadar bantuan sosial biasa. Lebih dari itu, ini adalah bentuk investasi jangka panjang untuk menjaga keharmonisan spiritual masyarakat.

Dengan adanya bantuan ini, diharapkan masyarakat Bali ke depan dapat lebih fokus menjalankan kewajiban spiritual mereka melalui ngayah. Mereka tidak perlu lagi pusing memikirkan dari mana harus mencari dana untuk membeli banten atau memperbaiki pelinggih yang rusak. Beban ekonomi diangkat oleh kebijakan yang pro-rakyat, sehingga beban spiritual yang emosional dan sakral bisa dijalankan dengan hati yang lapang dan tenang.

Visi ini sejalan dengan konsep Nangun Sat Kerti Loka Bali yang diusung pemerintah provinsi, yaitu menjaga kesucian dan keharmonisan alam, dunia, dan isinya sesuai dengan tujuan Tri Hita Karana.

Jejak Langkah Sejarah di Desa Adat Guliang Kangin


Desa Adat Guliang Kangin, Bangli, memiliki tempat tersendiri dalam peta spiritual Bali. Wilayah Bangli sendiri dikenal sebagai wilayah yang konservatif dalam menjaga tradisi. Jargon "Bumi Khayangan" atau "Bumi Tri Lingga" yang sering disandangkan kepada Bangli bukan tanpa alasan. Di sinilah banyak berdiri Pura Kahyangan Tiga dan pura-pura lain yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan kerajaan-kerajaan di Bali masa lampau.

Pembangunan atau pawedaan Sanggah Gede Kubon Tubuh Kuthawaringin ini merupakan salah satu bukti vitalitas keagamaan di Guliang Kangin. Kubon Tubuh merujuk pada ikatan kekerabatan atau kesatuan kelompok masyarakat yang memiliki leluhur sama. Keberadaan Sanggah Gede ini menjadi pusat pemarginan spiritual bagi para semeton atau keturunan Arya Kubon Tubuh.

Mempertahankan keberadaan sanggah-sanggah leluhur ini adalah kunci untuk mempertahankan identitas kekeluargaan di tengah arus modernisasi yang cenderung individualistis. Melalui upacara ini, generasi muda diingatkan kembali akan akar historis mereka, siapa leluhur mereka, dan apa tanggung jawab mereka untuk meneruskan estafet budaya ini.

Esensi Sagu Higeh dan Gotong Royong dalam Perspektif Modern


Dalam pelaksanaan upacara besar seperti Melaspas Sanggah Gede ini, terpancar jelas nilai-nilai luhur masyarakat Bali, khususnya konsep Sagu Higeh (saling menghargai, menyayangi, dan menghormati) dan gotong royong. Persiapan upacara semegah ini tidak mungkin dilakukan oleh satu atau dua orang saja. Ini melibatkan seluruh komponen desa, mulai dari Prajuru Desa Adat, Sekeha Truna Truni, hingga para Penyinar.

Wagub Giri Prasta dalam kesempatannya juga secara tidak langsung mengapresiasi kekuatan sosial modal (social capital) ini. Ia melihat bagaimana krama bergotong royong menyiapkan segala sesuatunya. Semangat kebersamaan inilah yang menjadi pondasi kuat masyarakat Bali.

Di era digital seperti sekarang, di mana interaksi manusia banyak bergeser ke dunia maya, momen-momen fisik seperti upacara adat menjadi sangat berharga. Ini adalah wadah aktualisasi diri secara sosial, di mana tetangga bertemu tetangga, berbincang, dan bekerja sama tangan di tangan. Ini adalah obat penenang bagi kecenderungan kesepian di era modern.

 Doa untuk Kerta Raharja: Visi Bali Masa Depan


Di penghujung acara, suasana haru dan sakral mewarnai doa yang dipanjatkan oleh Wakil Gubernur. Doa beliau bukan hanya untuk keberhasilan upacara semata, melainkan untuk kesejahteraan universal yang sering disebut Kerta Raharja.

“Semoga masyarakat Bali, khususnya Semeton Arya Kubon Tubuh, senantiasa hidup rukun sagilik saguluk sabayan taka, serta mencapai kehidupan yang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja,” ucapnya.

Frasa Sagilik Saguluk Salunglung Sabayantaka adalah filosofi dasar gotong royong Bali. Sagilik berarti searah tujuan, Saguluk berarti saling mendorong atau memotivasi, dan Salunglung Sabayantaka berarti saling merasakan beban dan kesulitan (sama-sama berat, sama-sama ringan dipikul). Ini adalah pesan moral bahwa kebahagiaan tidak bisa dicapai sendirian, melainkan harus diperjuangkan bersama.

Sementara Gemah Ripah Loh Jinawi menggambarkan keadaan tanah yang subur, kaya hasil bumi, dan makmur. Bagi masyarakat agraris seperti di Guliang Kangin, doa ini sangat relevan. Suburnya tanah adalah berkah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang harus dijaga melalui keseimbangan Tri Hita Karana.

Terkahir, Tata Tentrem Kerta Raharja adalah puncak dari semua tujuan hidup bermasyarakat. Tata berarti tertib, Tentrem berarti tentram atau damai, Kerta berarti suci atau sempurna, dan Raharja berarti bahagia dan makmur. Ini adalah visi besar yang ingin diwujudkan tidak hanya oleh pemerintah, tetapi oleh seluruh elemen masyarakat Bali.

Wujud Bhakti Nyata: Bantuan yang Mengalir


Sebagai bukti dari ucapan dan dukungan moril, acara ini ditutup dengan penyerahan bantuan secara simbolis. Wakil Gubernur Bali, Giri Prasta, menyerahkan bantuan pribadi sebesar Rp25 juta. Sementara itu, Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta, juga menyerahkan bantuan sebesar Rp10 juta.

Angka-angka ini mungkin tidak seberapa jika dibandingkan dengan total biaya upacara, namun nilainya sangat besar secara simbolik. Bantuan ini adalah wujud Tepung Sawah atau Punia dari para pemimpin untuk menunjang kelancaran Yadnya yang sedang dilaksanakan krama. Ini menunjukkan bahwa pemerintah hadir secara nyata, tidak hanya dalam wacana.

Bantuan tersebut diharapkan dapat sedikit meringankan beban biaya yang ditanggung oleh Panitia Yadnya atau Krama Desa. Ini adalah energi positif yang mengalir dari pemerintah ke masyarakat, yang kemudian dikembalikan lagi oleh masyarakat kepada Ida Sang Hyang Widhi melalui persembahan yadnya yang sempurna. Siklus ini menciptakan ekosistem hubungan yang saling menguntungkan dan memberkati (Saling Asih).


Sinergi Pemerintah dan Masyarakat Menjaga Warisan Budaya


Peristiwa hadirnya Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, dalam rangkaian Upacara Mecaru, Mendem Pedagingan, dan Melaspas Sanggah Gede Kubon Tubuh Kuthawaringin di Desa Adat Guliang Kangin, Bangli, adalah sebuah cermin mini dari bagaimana seharusnya pembangunan budaya berjalan.

Ini adalah bukti nyata sinergi antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah, dalam hal ini Giri Prasta dan jajarannya, berperan sebagai fasilitator dan pendukung (pamorbs), sementara masyarakat berperan sebagai pelaku utama (pelaksana) dan penjaga tradisi.

Upacara ini mengingatkan kita semua bahwa di tengah gempuran modernisasi dan globalisasi, identitas kita sebagai orang Bali harus tetap dikuatkan. Identitas itu terletak pada komitmen untuk menjaga Sradha dan Bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, melalui pelaksanaan Yadnya yang tulus, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan.

Semoga dengan telah dilaksanakannya Melaspas Sanggah Gede ini, energi spiritual di Desa Adat Guliang Kangin semakin kuat, memberikan ketenteraman bagi seluruh warganya, dan menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Bali untuk terus semangat melestarikan warisan leluhur. Seperti doa yang selalu terpanjat, semoga Bali senantiasa Ajitengam, suci, makmur, dan Jayjayanti selalu menang dan jaya dalam menjaga budi pekerti luhur dan kearifan lokal di tengah perubahan zaman.

Posting Komentar